Burung Biru VS Burung Hantu Part II

Sebelum gue melanjutkan pembahasan postingan gue sebelumnya. Di hari yang sama ternyata tidak hanya di Jakarta yang mengalami hal serupa. Polisi di Kota Paris yang terkenal dengan menara Eiffel nya pun kewalahan menanggapi aksi demo yang dilancarkan oleh sekumpulan pengemudi taksi konvensional.

Oh iya jangan kaget kalo di Paris juga ada yang demo, karena aplikasi seperti Uber sudah terkenal di kota-kota besar seperti Paris, New York, Tokyo jauh sebelum Uber masuk ke Indonesia.

Pendemo di Kota Paris tersebut menuntut agar taksi berbasis online juga membayar pajak seperti mereka. Berbeda dengan tuntutan pendemo di Jakarta siang ini yang justru menuntut agar aplikasi (Grab Car dan Uber) tersebut ditutup karena tidak memenuhi persyaratan sebagai angkutan umum. (Lah emang doi bukan angkutan umum, setidaknya di Paris tuntutannya lebih masuk akal)

Lagi-lagi gue mesti ngetik alesan yang ga masuk akal dari pendemo taksi tradisional di Jakarta siang tadi. (Buat yang kepo kenapa gue bisa bilang ga masuk akal, cek postingan sebelumnya).

Oke karena pada postingan sebelumnya gue udah memutuskan untuk tidak membenarkan pernyataan taksi tradisional yang mengatakan aplikasi Uber dan Grab Car sebagai angkutan umum ilegal. Maka gue ga mau lanjut ngebahas tuntutan taksi tradisional, yang menurut gue maksa dan garing. Apalagi sampe tonjok-tonjokan atau bawa-bawa parang. Lau Mcgregor apa Deadpool?

Terlepas dari alasan-alasan taksi tradisional. Yang gue lihat dari kejadian siang ini, ga lebih dari persoalan perut. Dimana supir taksi tradisional tidak terima melihat pengguna setia nya yang selama ini menjadi sumber penghasilan sudah beralih ke taksi online. Yah gue tau klo soal perut beda urusan.

Ditambah lagi masalah uang setoran yang terus naik. Setoran naik, pemasukan turun. Belum lagi memikirkan anak bini dirumah makan apa? (Rumit ini)

Saat kejepit pasti teriak. Gue juga bakal gitu sebagai manusia. Tapi kalo kejepit karena apa teriaknya kemana alias ga jelas, itu sih aneh namanya.

Klo menurut gue harusnya pengemudi tradisional bisa melihat klo keadaan mereka sama seperti gue, elo, dia, dan yang lainnya. Kita sama-sama ada di zaman dimana teknologi berkembang cepat. C’mon! Buka mata lo! Ini 2016! Samsung S7 dan iPhone 5SE udah launching noh!

Dengan membuka mata, melihat dan menyadari manfaat teknologi dewasa ini, harusnya elo bisa beradaptasi dengan menghadirkan inovasi untuk menarik kembali konsumen setia lo. Bukannya menghidari perubahan. Sekuat apapun elo kalo ga bisa beradaptasi, bakal punah juga nantinya. Gue sih ngutip omongannya opa Charles Darwin aja.

Bukan yang terkuat yang akan bertahan, tetapi yang mampu beradaptasi dengan perubahan.

Bro, lo tau Nokia kan? Betapa besarnya perusahaan itu beberapa tahun lalu. Itu salah satu perusahaan teknologi terbesar didunia saat masa jayanya, sekarang kemana? Perusahaan sebesar itu aja bisa hilang karena gagal beradaptasi. Apalagi burung-burungan pake ban karet.

Gue ga menghina ya, tapi klo lo emang pintar. Harusnya lo sadar dan segera beradaptasi. Pihak perusahaan burung biru harusnya ga membiarkan karyawannya terombang-ambing sendiri ditengah pusaran perkembangan teknologi. Harusnya mereka pihak perusahaan bisa pula menghadirkan aplikasi yang sama untuk karyawannya. Ya kan?!

Lah ini bos nya udah minta nambah jatah, terus anak buahnya dimodalin mobil doang buat ngelawan aplikasi canggih. Kejam bener. Udah itu anak buahnya dicekik ama bosnya eh ngambeknya sama pemerintah gara-gara ketemu sama yang namanya aplikasi. Gue salutin klo sampe bisa ngilangin yang namanya teknologi. Gue teprokin dah.

Biar para perusahaan taksi tradisional tahu. Lo pikir orang-orang masih pengen naik taksi dengan tarif yang ga pasti? Lo pikir orang-orang masih mau diajak muter-muter supir taksi yang pura-pura ga tau jalan biar argonya nambah? Lo pikir orang-orang masih mau jalan pake kendaraan dengan jarak dekat tapi bayarnya berkali lipat karena argonya udah dimodifikasi?

Ayo! Gue ngasih kritik gini tujuannya bukan mau menjatuhkan. Tapi harapan gue semoga perusahaan taksi konvensional bisa melihat keadaan dimana perilaku konsumen saat ini yang semakin pintar dengan pilihan transportasi yang lebih pasti dan lebih baik. Jangan salahkan teknologi kalo ga bisa adaptasi.

Peace!

Advertisements

9 thoughts on “Burung Biru VS Burung Hantu Part II

  1. Salam kenal, mohon ijin berbagi komentar dan pendapat.

    Menjadi ironis, ketika para pengemudi transportasi konvensional ini berdemo karena penghasilan mereka menurun. Disisi lain, perusahaan taksi (contoh Blue Bird) malah menikmati laba yang semakin besar tiap tahunnya. Mungkin para pengemudi itu salah mendemo.

    Like

  2. edochsan says:

    Setuju mas Roji! Kayanya udah rahasia umum nih klo perusahaan burung biru agak resek sama kompetitornya. Dan gue pernah denger cerita salah satu supir taxi klo burung biru dari dulu udah gitu. Gue udeh terlanjur berprasangka baik, jd cuma ngebahas isi “protes” an pak supir. Haha thanks btw komentarnya mas 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s