Idealis vs Realis

Selamat dini hari Readers! Mungkin udah pada tidur ya. Malem ini gue insom karena tadi sore capek parah terus abis magrib langsung molor dan baru bangun. So, dari pada melongok mending ngepost, ye ga? biasanya dini hari gini gue bakal bikin post untuk kategori tease. Dan postingan untuk kategori ini biasanya panjang-panjang, soalnya klo udah larut malem meski ga galau gue suka meracau. Jangan aneh, klo nanti siang baca postingan ini berasa keusik atau malah nanya kenapa nih orang? ngigo? Soalnya cuma pas kategori ini gue biasa nulis post sekaligus menyiratkan deep curcol pada tulisannya. Jadi maklumi ya klo keusik, Cause I’m a teaser, remember?

Introduksi

Sejak SMA (9 tahun lalu), gue dikenal sebagai sosok  idealis. (Berarti lo kaku dong Do? Kolot ya? Katro dong? Temen lo bayangan lo doang ya? Unfollow ah). Buset, segitu suudzonnya kah engkau?. Sebagai idealis, gue merupakan pribadi yang meng-agung-kan pemikiran dan prinsip-nya. Dan karena idealis, gue dikenal banyak orang dan berujung menjadi teman (siapa bilang idealis ga punya temen?), lantaran terkenal suka mengeluarkan argumen polemis di kelas. Salah satu momen kontroversial, yaitu saat guru gue menyuruh semua murid dikelas membuat sebuah gagasan untuk menghilangkan kebrorokan seperti korupsi yang dinilai telah menjadi budaya dan turun temurun.

Hasil pemikiran gue saat itu adalah, dengan cara “Genosida”. Setelah mendengar penjelasan gue di depan kelas, terjadilah perdebatan, terutama gue dan guru gue. Apalagi guru gue menilai pemikiran gue tidak etis mengingat saat itu beliau menyinggung hak asasi manusia. Setelah berdebat dan melihat gue masih kukuh dengan pendapat gue. Di akhir debat beliau bilang “Menjadi sosok idealis itu bagus, tapi terlalu berani mempertahankan idealisme punya resiko besar.” Lalu menyudahi perdebatan dengan menyindir gue “Semoga edo ga bernasib seperti Socrates.” Denger beliau bilang begitu, otak gue nyetrum mulut untuk menimpal “Bukannya lebih baik mati dengan prinsip ketimbang hidup sebagai manusia hampa?” -Kemudian hening. *krik*

carlsandburg156024

Mari tinggalkan cerita SMA gue tadi, dan untuk melanjutkan tulisan ini. Beberapa akhir ini gue dihujani oleh saran dan masukan dari beberapa temen yang menginginkan gue menjadi lebih baik “versi mereka”. Salah satunya adalah mereka menginginkan gue sedikit membuka mata untuk melihat keadaan sebenarnya dan merubah pemikiran gue. Kenapa? Karena mereka mulai melihat gue sedikit muluk dengan fantasi gue. Dan jadi yang istimewa adalah meskipun mereka tau hampir mustahil untuk meruntuhkan “Empire State of Mind” gue, mereka tetep sabar dan masih memberi nasihat ke gue (co cwiit anet sih kalian! Pret! Hahaha). Bener aja, mereka ga berhasil. Tapi meski mereka ga berhasil merubah pemikiran gue, mereka berhasil bikin gue berpikir ulang (yeay!). Sekalipun ga runtuh setidaknya kalian punya harapan gue mau merenovasi “Empire State” gue ya hihihi.

Dan tujuan tulisan gue kali ini bukan sebagai bentuk pembelaan dan mencari pembenaran, melainkan untuk menjawab keraguan kalian para realis yang skeptis dengan kemampuan seorang idealis. Maka maklumi klo disini gue pakai perspektif seorang idealis. Juga sekaligus momen perdana mendeklarkan idealisme baru gue. (Idealisme baru? berarti lo ganti idealisme? realis dong? labil dong, kek anak inbok.) Enggak berubah, makanya ini mau lanjut cerita. Ini siapa sih nih nanya mulu dari tadi, baru ngeh gue. *timpuk sneakers* *kemudian tenang*

Ok, sebelum lanjut cerita. Biar ada isinya nih tulisan ga ngablu banget, gue mau kasih penjelasan idealis dan realis secara umum aja ya, dan nyomot dari google. Jadi maklum klo kurang akurat.

Apa itu idealis?

Idealis adalah Penganut idealisme, kemudian idealisme itu apa?

Idealisme adalah aliran ilmu filsafat yang menganggap pikiran atau cita-cita sbg satu-satunya hal yang benar yang dapat dicamkan dan dipahami. -KBBI

Idealisme adalah suatu keyakinan atas suatu hal yang dianggap benar oleh individu yang bersangkutan dengan bersumber dari pengalaman, pendidikan, kultur budaya dan kebiasaan. Sumber.

Dari jabaran diatas bisa gue artiin klo idealis itu merupakan penganut idealisme yang dalam menyikapi dan menjalani kehidupannya dengan hanya berpegang terhadap keyakinan yang dianggapnya sebagai satu-satunya yang benar.

Dan setelah dari berbagai sumber dan artikel yang gue baca, bisa gue buat ciri-ciri penganut idealisme versi gue, antara lain:

  1. Jelas (Klo dia percaya A, sampai kapan pun mereka tetap A).
  2. Kaku (boro-boro buat pindah kelain tren, mereka tertutup dengan hal yang beda dan baru).
  3. Pakem (sulit bisa digoyang pemikirannya, klo bukan kemauannya sendiri atau hidayah).
  4. Berani (suka mengindahkan resiko, meskipun nyawa taruhannya).
  5. Serampangan (bodo amat sama istilah main cantik, main aman, klo menurutnya lo salah, lo gue tebas).
  6. Lawan arus (biar kata berat lawan arus, terjang terus. meskipun mimpi belum tentu terwujud, harus tetep yakin).
  7. Ngotot (biarpun orang udah kasih tau di depan jalan buntu, doi tetep percaya bisa lewat situ)
  8. Ga perduli dengan citra diri  (ga perduli penilaian orang, mau lo bilang doi arogan, ngeyel, kolot, klo menurut doi salah ya salah)
  9. Keras kepala (terkesan keras kepala, karena ga mau denger saran orang lain)

Apa itu realis?

Realis adalah penganut paham realisme, lalu apa itu realisme?

Realisme adalah paham atau ajaran yang selalu bertolak dari kenyataan. -KBBI

(“Bertolak” disini artinya “berpangkal” atau “berangkat” ya).

Adalah suatu sikap/pola pikir yang mengikuti arus. Individu yang realistis cenderung bersikap mengikuti lingkungannya dengan mengabaikan beberapa/semua nilai kebenaran yang dia yakini. Sumber.

Sedangkan dalam arti filsafat yang sempit, realisme berarti anggapan bahwa obyek indera kita adalah real, benda-benda ada, adanya itu terlepas dari kenyataan bahwa benda itu kita ketahui, atau kita persepsikan atau ada hubungannya dengan pikiran kita. Sumber.

Klo dari penjabaran diatas gue bisa mengartikan realis merupakan penganut realisme, yang menjalankan dan memutuskan sesuatu berdasarkan kenyataan yang dilihat olehnya (realistis). Dan berdasarkan dari berbagai sumber dan artikel yang gue baca, gue bisa membuat ciri-ciri penganut realisme yang merupakan versi gue, diantaranya:

  1. Fleksibel (dia bisa kemana aja, berpindah dari satu tren ke tren lainnya dengan mudah, jadi jangan kaget klo dia kemaren A sekarang B).
  2. Terbuka (Mau menerima tren, jalan atau cara atau ide bahkan pemikiran baru, dengan harapan menemukan yang lebih baik).
  3. Takut Resiko (Kalo kira-kira membahayakan, lebih baik cari cara/jalan/ide/pemikiran lain).
  4. Tau diri (atau bisa dibilang ga muluk, kalo mereka menilai sebuah tujuan atau keinginan mereka itu sulit/tidak memungkinkan untuk dicapai atau diwujudkan, mereka akan cenderung cari cara baru bahkan tujuan baru).
  5. Main aman (Namanya takut resiko, ya mesti cari aman).
  6. Ikut arus (Ketimbang lawan arus, capek, banyak resiko, mending ikutin arah angin we yang penting selamat).
  7. Mainstream (Yaiyalah, ikutin apa yang banyak orang lakuin. Dari pada beda sendiri kaya kebo bule)
  8. Halal haram hantam (bodo amat soal caranya yang bener atau salah, yang penting tujuan tercapai).

 

Perspektif

Nah, setelah baca penjelasan dan ciri-ciri yang gue buat diatas, sebenernya ciri-ciri tersebut bisa sebagai sisi positif atau sisi negatif, bisa sebagai kelebihan dan kelemahan. Semua sesuai dari mana lo melihatnya. Bagi sosok idealis melihat sosok realis sebagai seorang munafik yang bisa berubah-ubah, atau sebagai sosok yang ga punya pegangan. Begitu sebaliknya sosok realis akan menilai, sosok idealis sebagai sosok pemimpi, yang ga tau diri, dan keras kepala. Ga bakal selesai kalo begini terus, yang jelas bagaimana kalian melihat mengantarkan seperti apa kalian akan menilai. Dan sebenernya ga perduli seperti apa kalian menilai, cukup menghargai satu sama lain aja.

Balik ke isi tulisan, perspektif negatif para realis yang skeptis terhadap sosok idealis menurut gue kurang pantas, karena apa? Karena kalian lupa siapa pecipta idealis dan apa saja yang bisa dilakukan sosok idealis. Idealis akan memperjuangkan pemikirannya sampai mati meski diawali dengan penolakan dari para realis. Kalian mungkin tahu Socrates adalah cikal bakal paham idealisme yang digambarkan oleh Plato dan di istilahkan pertama kali sebagai idealisme oleh Leibniz pada abad 18. Dan kalian mungkin tahu Hitler, Guy Fawkes, Soekarno, Mahatma Gandhi, Martin Luther, Julius Cesar mencatat diri dalam sejarah sebagai manusia-manusia idealis besar yang suskes memegang pemikiran dan kepercayaannya. Sementara realis? Kalian hanya bertepuk tangan, dan riuh setiap menyambut tren baru yang sebenarnya mungkin tren itu diciptakan oleh sosok idealis baru.

Idealis sejatinya melahirkan sebuah pemikiran yang siap dilepas untuk dianut masyarakat dunia, setidaknya untuk dirinya sendiri, sementara realis selalu mencari sebuah gagasan baru yang menurutnya baik dan menyelamatkannya kedepan.

 

Baik atau buruk?

Setelah gue menyebutkan sedikit tokoh idealis besar yang terkenal dengan keteguhan terhadap pemikirannya. Gue rasa realis tidak bisa meremehkan sosok idealis lagi. Terlebih saat kalian para realis sadar, meskipun kalian mungkin saat ini mayoritas dan selalu berada diposisi nyaman, realis tidaklah lebih baik dari idealis. Setidaknya dalam hal harga diri. So, jangan pernah skeptis sama seorang idealis! Dan jika realis bertanya “Sekalipun idealis mati dengan kepercayaanya sendiri?” Maka gue sebagai idealis akan menjawab “Iya, jangan pernah sekali pun meremehkan kami, meskipun seorang idealis mati karena idealismenya sendiri.”

Kenapa? Karena idealisme tidak pernah mati. Kalian melihat apa yang kalian lihat sebagai realis, dan tidak bisa melihat apa yang kami lihat. Sebuah pemikiran, Sosok yang lebih dari sekumpulan daging dan tulang. Sosok yang tidak bisa mati, meskipun kalian gantung, tusuk, tembak, dan racun. *Toss sama si V*

 

mental6-6b

 

 

Pendeklaran Diri

Dan setelah penjelasan diatas, mungkin readers bakal ngira gue bohong soal perubahan idealisme (soalnya elu kan idealis do), bener kok! Tapi bukan menyebrang sebagai realis (Gengsi bos!). Setelah melalui pertikaian sengit antara sel-sel otak gue. Kali ini gue akan menyandingkan idealis kepada pragmatis, sosok yang setidaknya menurut gue lebih baik dari realis. Setelah berkecamuk dan berhubung orang udah ada suara intro subuh gue percepat aja, sepertinya untuk menjadi idealis dengan cara idealis terlalu platonis, dan perfeksionis. Alangkah baiknya gue buka mata meskipun masih pake kacamata kuda, maka mulai hari ini gue deklarkan diri jika idealisme gue akan bersanding dengan pragmatis meskipun mungkin gue belum tau arahnya kemana. Menjadi sosok yang pragmatis secara idealis kah atau sosok idealis yang pragmatis, gue belum tau.

Yang jelas idealisme gue akan terus hidup dalam diri gue, dan buat temen gue doakan saja “Empire State” gue lebih mewah dan megah dari sebelumnya (makin muluk dong?). HAHAHA

 

Hampir Diujung

Ya, hampir diujung nih. Sebelum gue sudahi, gue mau merangkum sedikit. Apapun elo, idealis, realis, materialis, pragmatis, bla bla bla. Lebih baik jangan pernah meremehkan satu sama lain. Karena klo idealis mau bertanya balik sama realis, “Kenapa harus ikut arus? Bukannya cuma ikan mati yang ikut arus?” Gue rasa realis cerdas bakal ngerti maksud dari pertanyaan itu, dan bergabung bersama gue disini. hehehe.

So, which one are u? Selamat subuh, dan sampai jumpa! (Gila, ga berasa nulis dari jam 3).

 

Advertisements

13 thoughts on “Idealis vs Realis

  1. menyoal tentang benar dan salah, kadang bisa jadi perdebatan panjang. tapi kadang memang harus bawa-bawa kata “maklum”. karena jarak pandang, resolusi pandang, sudut pandang dan cara pandang orang bisa beda-beda. Apa yang diyakini saya hari ini bisa beda kalau ada perubahan pada 4 aspek tadi.

    so??? kabur dulu… ambil sepatu, berangkat kerja 😀

    Like

    • Setuju mba, setiap manusia punya sudut pandangnya sendiri. Dan kita ga bisa memaksa semua manusia ada di satu sudut (susah napas ntar, desek2an soalnya).

      Cuma maklum dan respec…. Eh bentar, bisa beda? Mba realis? Wah, wooy jangaaan kabuuur!! *Ngejar mba momo mau terima kasih udah mampir dan komen. Cuman mba momo ude terlampau jauh* hhe 😁

      Like

      • Idealisme adalah suatu keyakinan atas suatu hal yang dianggap benar oleh individu yang bersangkutan dengan bersumber dari pengalaman, pendidikan, kultur budaya dan kebiasaan.
        Realisme adalah paham atau ajaran yang selalu bertolak dari kenyataan.

        Ada yang mirip-mirip dari pengertian keduanya. PENGALAMAN dan KENYATAAN. Pengalaman diperoleh dari kejadian nyata kan?

        Anggap pengalaman/kenyataan adalah suatu hasil dalam persamaan (pernyataan matematika).
        Yang satu bilang x + y = 8
        Yang lainnya mendapati x –y = 2

        Hasilnya beda? Nggak masalah. Karena tiap orang punya prosesnya masing-masing. tapi bagaimana orang memecahkan nilai variabel x dan y itu yang penting.

        Saya punya pandangan hari ini atas dasar idealisme, besok-besok saya bertemu kenyataan yang lahir dari bumi realitas, yang tentunya berbeda. daripada saya berdiri di atas dikotomi yang tak berkesudahan antara idealisme dan realisme, saya mencoba memecahkan nilai-nilai variabel ini. apa yang menjadi pola kenapa bisa begini dan begitu. tentang pelajaran apa yang bisa diambil dan lebih bijak dalam mengambil sikap.

        Sayangnya, saya cukup bodoh untuk memecahkan variabel-veriabel hidup. yeahh..

        Tentang ikan yang melawan arus akan mati, ada kok ikan salmon yang hidupnya menantang arus, doi jadi mahal karena kandungan manfaatnya yang tinggi. ada yang bilang hiduplah seperti salmon, berani melawan arus. Buat saya melawan arus atau tidak itu bukan masalah besar, yang penting itu bisa jadi manfaat dengan melawan arus atau mengikuti arus.

        Maaf kepanjangan. Semoga nggak puyeng ya.

        Kok saya jadi pusing sendiri nih abis ngomong apa.

        Like

      • Betul mba, keduanya sama-sama lahir dari kejadian nyata (real) perbedaannya adalah idealis bertahan dengan hasil pemikirannya itu, sedangkan realis bisa melahirkan pemikiran berkali-kali. Yang pasti mereka punya kelebihan dan kelemahan.

        Setiap idealis punya idealisme nya masing2, bahkan seorang idealis terhadap realisme juga ada. Sedangkan realis idealis itu ga ada.

        Sebenernya bukan permasalahan perbedaan idealis dan realis. Masalahnya adalah ketika salah satu dari mereka meremehkan lawannya. Kadang mereka lupa klo dia jg punya kekurangan.

        Nah klo ikan, pasti cuma ikan hidup yang menantang arus. Yang ikut arus dan pasrah dibawa entah kemana itu cuma ikan mati. Maksudnya, cuma ikan ga bernyawa yang ga punya jiwa (pegangan) yang mudah terbawa arus tanpa perlawanan.

        Gapapa mba panjang, seenggaknya ada tmn ngobrol wakakakak

        Like

      • hahahaha…. aduh udah masuk bahasan “Jiwa” nih topiknya…
        barangkali jiwa/pegangan disini adalah ILMU kali ya…

        eh kalo secara verbal saya kadang males lho ngomong panjang lebar 😀
        Terimakasih sudah memberi ruang untuk “bacotan” saya 😀

        Like

      • Iya mba maksudnya ilmu, hehehe jiwa itu perumpaannyanya, bukan maksud melebar kesana. Lagipulsa sekedar galauan gue mba. Tak perlu digubris bgt wkwk

        Ya mba, thanks uda mampir dan ngasih pendapatnya.. 🙂

        Liked by 1 person

  2. Nice thought 🙂 Semoga idealismenya dipegang sampe dewasa yah anak muda. Hahahahaha. Apapun itu, yang dilihat orang lain dari diri kita adalah kita harus punya prinsip. Gak ikutan arus. Banyak anak muda sekarang gak punya sikap. Dari mulai kuliah diarahin ortu terus kerja, masuknya dibantu ortu. Pas di kantor ikut2an dan menikmati budaya yang (gak usah diceritakan lah). Biar tahu sendiri. Hehehehehe

    Like

    • InsyaAllah mba Arini, makanya sampe kuliah masuk tahun ke 6. Bukan dablek cuma ngaret gara-gara idealisme gue sendiri. Itulah knp temen2 gue membantu menyadarkan gue. Emang ada negatifnya sih, to gimana. Namanya idealisme kan mba? Hahaha * kepala batu*

      Like

    • Jangan dilihat sebagai bacaan berat Ris, anggep aje tulisan org ngelantur yang galau di tengah malem. Wakakak

      Jangan di tengah! Gampang di sniper! Sini sini ngumpet ditembok gue Hihihi 😁

      Like

      • dan sepertinya gue juga termasuk yang di tengah tengah. Hahahha. Idealis itu perlu, apalagi klo masih muda. Tp kadang ketemu juga tembok yang sulit banget ditembus, yg ngga bisa asal bertahan, dobrak, karena yg ancur bukan diri sendiri tp orang lain di sekitar juga. Disaat kayak gini kadang perlu belok sedikit, realistis sama keadaan, gitu.
        Halaaah sotoy abis gue, hahaha

        Like

      • Itu lah yuk minusnya idealis, ga mikirin nasib org lain yang mikirin nasib idealis (gmn mo mikir, nasib diri sendiri aja dikorbanin demi idealismenya) hahaha

        Tenang yuk, di postingan gue mah boleh soktoy.. Gue aja ini sok toy paraah hahaha

        Like

  3. Kata kepala sekolah gw di tempat kuliah beasiswa gw, gabungan Idealis – Realistis

    Contohnya gw, idealis untuk kerja di Perusahaan Jepang ^^

    Aamiin Ya Allah, belum ada pengumuman nih dr tes Medical Check Up PT. Epson

    Minta do’a bang semoga lolos ^^

    Ehtapi liat waktu juga nih, udah lebih dr 2 bulan gw wisuda, gw harus segera dapet kerja dulu

    Karena gak baik untuk track record gw, gw nganggur 2 bulan lebih

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s