Ketika Aku dan Kamu Hanya Berjarak Beberapa Lagu

▶️ Tom Misch – Watch Me Dance

Terima kasih Tom, untuk lagunya kali ini. Kok pas ya momennya, di lagu ini anda sempurna membuat saya sempuras. Serasa ampas. Terima kasih loh, sekali lagi. Pertama-tama ini bukan postingan galau. Perlu diingat gue ga pernah galau, tapi meracau. Ada satu momen ketika gue ga mujur, ada. Salah satunya saat ini. Dan gue ga sedih, ini kuat buktinya ngetik, sembari ngemut jeruk nipis. Biar imbangin asemnya hidup guah! Nah penggalan liriknya si Tom bilang “watch me dance with this memory.” Nah dari pada sedih terus harakiri mending bikin fiksi. Okelah kalo begitu, let me dance. Sekali lagi bukan galau, it’s just reminisce you. Let me start it.

Ketika Aku dan Kamu Hanya Berjarak Beberapa Lagu

Beruntung itu bukan sekedar bernasib baik, apalagi bisa kenal manusia “gila” yang sebati, sehaluan, seirama! Iya seirama, padanan ini paling cocok. Manusia datang dan pergi tapi yang berkesan tinggal di sini. Iya kan? Minggat tapi ga maherat, menghirap tapi ga mengirap. Ketika kita terpisah beberapa ribu mil, tapi hanya berjarak beberapa lagu. Bukan lagi sendu yang terbungkus rindu melainkan rangkaian nada yang jadi penanda rasa “ini” berlipat ganda dan melenda hati sanda. Kurang apa metafor gue? Cuma seperti kata lo “untuk apa ber-metafor kalo hati lo udah ber-metamorf?” Gue sih diem klo udah gini. Se-batu-batu-nya hati gue, sekuat apapun idealis gue, akan kalah ketika menemui kata kita. Karena kita itu bukan untuk kata ganti orang pertama atau ke dua, tapi penyatu untuk jadi berdua, bersama, bertukar cerita dan saling mengalah persis yang lo lakuin ke gue. Sudah lah, kasih enter untuk paragraf baru.

Saat ini gue punya banyak kosa kata yang bisa muntah kapan aja dari kepala. Tapi buat apa? Udah ga guna lagi kan. Gue boleh pandai berbahasa tapi gue ga lupa lo lihai membaca. Tanpa perlu bicara lo bahkan bisa tau gue dari bahasa tubuh juga. Itu kan sebab gue yang gede bacot ini adem kalo deket lo, gimana sih rasanya ga perlu bersuara tapi uda kebaca. Nyaman kan? Nah iya. Btw soal suara, pertama ketemu dari suara siapa sih? Suara Luke! Lagu Naive dari The Kooks!

Luke—The Kooks—lalu Plurk! Kita ketemu di urat Plurk. Siapa yang tau kalo medsos macam begitu mempertemukan gue sama orang gila macam elo. Gimana ga gila, kalo cuma elo cewe yang gue kenal musikalitasnya abnormal dari cewe kebanyakan. Otak lo itu kebanyakan disumpel headset makanya sensitif banget sama nada-nada. Tapi kerennya gue ga perlu susah payah lagi nyari nada keren di myspace atau reverb kala itu, kan udah ada library berjalan, hahaha.

Beberapa ratus track kemudian, Gue sama lo ga cuma seirama dalam hal musik tapi dalam hal godain tukang somay pun kita seirama. Siapa yang mesen somay pare doang? Dibikinin lagi sama abang-abangnya, kan gila. Abangnya ikut gila gara-gara elo, atau melting karena senyum lo. Di tengah taman sampai hampir tengah malam kita ngelantur di kap mobil, brainstorming. Dari euforia pildun sampai perpus Alexandria. Kemudian jam 11.30 pulang. Lo kan cinderella, 12 teng harus udah di rumah. Dari kap mobil ke rumah elo itu hampir se-jam lamanya, jadi gue harus nginjek pedal gas sebisanya. Kemudian sembari bayar parkir elo udah nyanyi Nakamarra, dengan memejamkan mata, tangan lo mulai berdansa. Setiap nyanyi lagu ini lo pasti mejam. hahaha. Nice moment.

hiatus kaiyote nakamarra

Sesampainya di rumah, seperti biasa nyokap lo udah buka pintu denger suara mobil. Komplek lo itu sepi, jangankan suara mobil, suara lo nyanyi aja kedengeran gue rasa. Jadi nyokap lo buka pintu mungkin bukan karena suara mesin tapi suara lo. Dan seberapa sering gue ketemu nyokap lo, gue selalu salting sebab cantikan nyokap lo. Dandanannya juga, kece parah. Ga habis di situ, setelah gue dan elo di rumah kita lanjut chat via eBuddy. Ebuddy dulu ga mampu menidurkan kita jam 1-2 am, tapi 3 am! Thank God ada Honne dengan lagunya. Gue tuh yang nemu. Gue dengan Honne dan elo dengan Oh Wonder.

Beberapa tahun ini, kita sedang jatuh cinta dengan nada elektro. Elo dengan Oh Wonder gue dengan Honne. Tapi justru kita naksir vokalis berbeda, gue naksir suara Josephine, dan elo naksir suara Andy Buck. Dari semua lagu yang lo nyanyiin, suara lo hampir mendekati suara Josephine. Mungkin karena itu gue naksir Josephine, tapi gue yakin elo bukan begitu. Karena suara gue ga ada mirip-miripnya vokalis Honne. Lebih mirip suara Kiwil, dan lo pasti ngakak setiap gue ngomong gini. Anjir kan. Kemudian sediakan paragraf baru untuk mengingat hal lain.

Gue suka Oh Wonder, sama seperti Honne. Mereka keren, indie yang keren. Dan gue beru sadar setengah budeg sekarang nyari link untuk lagu Body Gold versi asli, bahkan di Youtube ga ada. Sekeren itu emang Oh Wonder, memang! Terlepas keduanya, gue lebih suka memperhatikan lo berlenggok sambil menyanyikan Body Gold. Kepala dan tangan lo selalu sinkron sama nadanya, ga pernah bosen. Apalagi saat lo bernyanyi di bagian “We will walk with our feet on the ground, and we talk with our head on the clouds.” Just miss that moment. Dan lo paling suka merhatiin gue nyanyi Honne-It’s ain’t wrong loving you, apalagi pas bagian “bit by bit” sedikit memaksakan ya. iya kan? Hahaha. Tau gue, dan masih ingat!

Gue ingat! Setiap detiknya, setiap binar lampu jalan yang menggelimantang, setiap deru mobil yang menyalib dari kanan. Di jalur lambat ini, cuma kita yang beroda empat. Dan ketika tune khas intro itu mengenai membran timpani lo, seketika itu pula lo timpali kan? Dengan membenarkan posisi duduk lo yang tadinya super nyantai, karena ini lagu gue. Kemudian elo merinai serindai, lalu menyeringai melihat gue yang setiap kali ada di momen ini belaga kalem. Fokus ke situasi jalan yang udah tau sepi tapi sok awas, seperti pemikiran gue yang takut dengan hal yang belum tentu ada tapi sok ide. Meski mata gue fokus ke jalan, lo tau kuping gue fokus ke elo kan? Lo kenal gue bener, bener-bener seperti lo kenal intro lagu ini. Dan lo akan terus seperti itu sampai gue melirik elo kan, bahkan usaha lo sampai bersandar di dashboard membelakangi jalan, elo tau ga kalo gue nabrak itu airbag bakal nendang punggung lo. Tapi lagi-lagi lo bakal bilang apa yang mau ditabrak kalo di jalan cuma kita doang. Sekali lagi gue dan ketakutan gue sendiri, hahaha.

Ironinya sejenak gue terbang jauh mendarat tepat di doodle plurk yang mempertemukan kita. Doodle gue yang bermata satu dengan warna ngejreng itu bilang “ini lagu lo ke dia, kenapa sekarang lo yang dinyanyiin dia?” Kemudian si doodle menyeringai. Bahkan dalam khayal, gue pun di godain. Seketika gelembung khayal gue pecah karena suara merdu lo yang sedikit ditekankan pada bagian cause we just click, it’s plain and simple. Duh, itu jargon gue njir! Lo masih meyakinkan gue dengan lagu gue sendiri. Menjadi semacam bumerang yang dipakai aborigin berburu emu. Kalian berdua! Cukup kalian berdua.

Kita berdua sama-sama paham betul jika kita lemah sama irama instrumen bedebah macam ini. Elo seperti biasa sudah berada di tengah pusarannya, berdansa dengan nada-nadanya. Sedang gue? Dan malam itu bukan cuma sang candra yang melihat kebodohan gue menahan lengan gue di setir, melainkan kaca spion itu juga. Gue ga bisa lagi kaya dulu dimana kita bego bareng sama lagu ini. Bukan alasan yang bodoh klo gue ga mau ikut-ikutan bego kan?

Sepersekian detik gue punya alasan yang lebih baik. Seberapa kali kita nyanyi bareng di kabin ini, gue lupa. Gue lupa sama merdunya suara elo, sekali untuk selamanya bisa kan? Gue disini dengan setir mendengarkan elo disana dengan suara merdu lo. Tapi suara lo itu! Suara lo itu sama ngeselinnya dengan suara Buck! Sisakan ruang sayang! Gue mau terjun bebas. Lo bentangkan bridge-nya untuk gue, kemudian kita sambut bersama hook-nya. Kemudian sang candra menjadi sosok ketiga yang menyeringai dari atas sana. Gue tau can!

Tapi yang dulu ga bisa kejadian lagi kan. Setidaknya untuk waktu yang lama. Gue menjauh juga elo tau kenapa sebabnya, kita sudahi ini juga bukan karena masalah. Ga ada masalah yang mampu menceraikan kita kan? Ga ada. Tapi hati kita sendiri, hati gue lebih tepatnya. Setidaknya Disana pasti ada honne fans yang kece juga kan? Di sini pun gue coba cari Oh Wonder Fans yang ga kalah kece dari lo. Semoga dapat! :’)

Btw Lumineers ngeluarin video clip baru Ind! Kelakuan si cewe di mobil dalam video clip itu persis kelakuan elo. Ga ada adat! Hahaha!

lumineers

Selesai-

21-Januari-2017 beda sepuluh hari dari lagu Gigi.

Inspirasi fiksi kali ini:

Ini karya fiksi, jangan tanya siapa!

Advertisements

23 thoughts on “Ketika Aku dan Kamu Hanya Berjarak Beberapa Lagu

  1. Ndak terima aku kalo ini hanya cerita fiksi karena terlalu terasa nyata, apalagi yang 3AM kan ayo ngaku aja ngaku:(
    Dari semua lagu-lagu di atas, yang aku dengerin cuma The Kooks sama Honne doang *gagal indie*

    Liked by 1 person

    • Harus au harus terima hahaha.. ini fiksi cuma kebetulan sama dengan—intinya sama. Tapi kan cuma kebetulan yg tidak sengaja. Wkwk
      Seriusan gue jg ga bnyk tau kok, buktinya ketinggalan indie yg lg booming skrg.

      Like

  2. Yakin fiksi? Karena dibalik fiksi selalu ada nyata yang diselipkan #pfftt
    ah, dan gue ga bakal nanya foto cewek yang jadi inspirasi itu siapa, gue cuma mau nanya “jadi udah punya pacar do?” Huahahahaha

    Liked by 1 person

  3. Saat orang lain ga percaya ini fiksi, oke aku akan percaya kalau ini fiksi. Bukan biar kamu senang, tapi karena akupun suka gitu, bilangnya fiksi padahal nyata. Ah yasudahlah gimana penulisnya aja yakan hahaha. Pembaca cukup menikmati aja 😛 😛 😛

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s